Senin, 12 Maret 2012

Catatan dari Jendela Kamar Seorang Anak Jalanan


Dari jendela kamar, senantiasa aku memandang iri
pada langkah kaki-kaki kalian yang ringan,
pada senyum bibir-bibir kalian yang mengembang,
pada gerai rambut-rambut kalian yang melenggang.

Dari jendela kamar, seringkali aku mengeluh iri
mengapa langkah kaki-kakiku tiada ringan?
mengapa senyum bibir-bibirku tiada mengembang?
mengapa gerai rambut-rambutku enggan melenggang?

Dari jendela kamar, pergi sadarku
mengukur mulusnya mobil mewahmu, juga mahalnya sepatumu.
Mangkat juga sadarku ketika hanya sepiring kaleng nasi aking tertawa dingin memberi maaf pada laparku.

Kulepas sadarku tanpa duka dari jendela kamar.

Bersama dengan doa sederhana, hari ini aku bisa dapat uang
untuk menyambung nafas guna esok lusa buram.

Selasa, 06 Maret 2012

Apa Kata Dunia...??


Pemberitaan tentang anggota dewan yang terhormat memang tidak ada habisnya. Gaung beritanya seakan bersaing dengan para selebritis yang senantiasa menebar sensasi demi mengatrol popularitas.
BERITANYA pun variatif mulai dari yang klasik. Seperti, membolos, tidur saat sidang, korupsi anggaran, hobi pelesiran atas nama tugas, rencana pembangunan sarana dan prasarana, serta fasilitas gedung. Seakan tak mau kalah dengan koleganya di dunia selebritis, alhasil beragam ketidakpuasan masih mewarnai opini publik soal kinerja wakil rakyat selama ini.

Tak heran jika saat ini anggota dewan menjadi bulan-bulanan media massa. Pergunjingan seputar polah tingkah mereka merebak di berbagai media cetak maupun elektronik hingga dunia maya. Tak cukup dengan itu. Berbagai elemen masyarakat, terutama mahasiswa, pun turun ke jalan mengecam berbagai ulah dan gaya hidup mereka.

Bahkan, sebuah parodi yang tayang rutin di sebuah stasiun televisi swasta menjadi ajang menguak dosa-dosa wakil rakyat.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan salah satu media di sepuluh kota besar Indonesia melalui telepon merupakan rangkaian pengumpulan pendapat masyarakat. Di mana, khusus menilai sepak terjang anggota wakil rakyat selama ini.

Penilaian masyarakat yang mencerminkan masih tetap terpuruknya citra para wakil rakyat tersebut sedikitnya diungkapkan tiga perempat bagian responden (76 persen). Hanya 17 persen responden yang menyatakan citra anggota wakil rakyat saat ini baik. Dan, sisanya memilih untuk tidak memberikan penilaian.

Terpuruk citra dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap wakil rakyat adalah bukti kegagalan wakil rakyat. Warisan masalah semacam itu, disengaja atau tidak, akan menyeret wakil rakyat pada saat ini dalam situasi sulit untuk memulai masa tugasnya.

Mereka harus bekerja dalam bayangan citra dewan yang rusak, tanpa kepercayaan publik, disertai keraguan atas kemampuan, komitmen, integritas, serta kemandirian politik membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Jika ada kesungguhan mengatasinya, wakil rakyat baru harus mampu membuktikan bahwa citra dewan terhormat dan publik dapat menaruh kepercayaannya karena dewan bekerja untuk kepentingan mereka.

Ini membutuhkan komitmen perubahan serta pilihan pendekatan yang strategis, efisien, dan efektif. Membuktikan komitmen perubahan dapat dimulai dengan hal sederhana. Seperti, rajin dan tepat waktu menghadiri sidang, menghindari kegiatan percaloan politik, serta menjauhkan pikiran dari penyalahgunaan wewenang.

Lebih dari itu, pada dasarnya anggota dewan tidak pernah punya hambatan untuk melakukan inisiasi perubahan berbagai mekanisme kerja wakil rakyat yang birokratis dan pengambilan kebijakan yang tidak efisien.

Wakil rakyat juga perlu serius membangun pola relasi intim dengan konstituen. Intimasi relasi wakil dan konstituen adalah kunci guna membongkar kebekuan hubungan dan menghapus keraguan/kecurigaan di antara keduanya. Inisiatif intimasi semacam ini akan memaknai demokrasi perwakilan sebagai demokrasi komunikatif. Di mana, dialog antara rakyat dan wakilnya dapat berlangsung intensif.

Para wakil rakyat sering mengandalkan media dalam menyampaikan informasi atas kinerjanya. Padahal, media sering kurang utuh dalam penyampaian informasi itu kepada konstituen karena terbatasnya ruang dan jangkauan. Adalah tugas dan kewajiban anggota wakil rakyat untuk langsung menampilkan rencana dan hasil kerjanya kepada konstituen..

Itulah pentingnya intimasi yang selama ini diabaikan, dan berakibat fatal karena mayoritas konstituen tidak tahu apa yang telah dan akan dikerjakan anggota wakil rakyat. Sementara itu, informasi tentang citra buruk wakil rakyat terus menerpa mereka. Hasilnya, anggota wakil rakyat diakui sebagai wakil rakyat. Tetapi rakyat membenci, mengkritik, bahkan mencacinya.

Berkaca pada pengalaman wakil rakyat sebelumnya agar tidak mengulang kesalahan dan mampu memperbaiki kinerja. Sistem suara terbanyak pada Pemilu 2009 kiranya memberi pelajaran penting bagi setiap anggota wakil rakyat baru bahwa pemilu bukan sekadar mencoba keberuntungan. Dengan sistem itu, anggota wakil rakyat tetap dituntut berjuang keras dan mengabdi kepada konstituen.

Berpolitik berarti bersedia mendedikasikan diri, waktu, pikiran, serta tenaga bagi rakyat dan partai politik. Bukan sekadar numpang lewat dan mencari keberuntungan melalui kekuasaan publik. Menjadi wakil rakyat berarti bersedia dan rela berkorban demi rakyat dan bangsa, bukan mencari dan memanfaatkan kekuasaan demi kekayaan, mengembangkan relasi bisnis, atau menjadi alat penguasa dan pemilik modal. Karena itu, wakil rakyat disebut sebagai anggota dewan yang terhormat.

Dari masyarakat yang serbamiskin akhlak ini terlahir generasi yang korup, hedonis, dan egoistis. Dan, dari generasi macam itulah terpilih para wakil rakyat yang perangainya merupakan cermin sesungguhnya bagi karakter masyarakat.

Terlepas dari itu, tak bijak rasanya kita terus-menerus menimpakan hujatan kepada anggota dewan dengan predikat manusia tak punya hati nurani, tak peka dengan penderitaan rakyat. Padahal dalam keseharian, sering kali kita berlaku sama. Hitunglah berapa kali kita acuh tak acuh kepada pengemis yang menengadahkan tangan di depan kita demi sesuap nasi.

Berapa kali kita memandang sebelah mata anak-anak kecil dengan pakaian lusuh yang memungut sampah di pekarangan rumah. Bahkan, terkadang kita masih memberi bonus berupa cercaan, makian, dan ejekan kepada mereka.

Sekali lagi, tak perlu menghujat anggota dewan dengan segala polah tingkahnya. Sebab, mereka adalah cermin-cermin diri kita. Jangan bertindak seperti peribahasa Buruk Muka Cermin Dibelah. Maka, kita sebagai masyarakat harus tetap berpegang teguh terhadap etika baik dan berpikiran positif terhadap semua pejabat kita. Allah Yang Maha Tahu. Dan, kita hanya sedikit tahu. Itu pun pengetahuan kita secara tidak langsung hanya lewat media cetak maupun elektronik dan internet.

Solusinya agar tidak menambah dosa-dosa prasangka kita, sebaiknya berpikir positif terhadap mereka. Selain itu, mendoakan supaya bangsa Indonesia lebih maju, tertata makmur, dan sejahtera lewat kerja mereka, tentunya kita secara pribadi. Wallahualam.

Rabu, 29 Februari 2012

Mimpi Anak Jalanan


Anak jalanan, pada hakikatnya, adalah “anak-anak”, sama dengan anak-anak lainnya yang bukan anak jalanan. Mereka membutuhkan pendidikan. Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa.Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta menjadi kering tak menarik.Sering kita melihat anak jalanan Wajahnya kusam, rambutnya acak-acakan. Bajunya lusuh ditimpali debu jalanan dan asap knalpot kendaraan. Dengan suara asli nya bernyanyi tanpa menoleh ke pengendara mobil. Karena diburu waktu, tak satu pun tembang yang berhasil dinyanyikan sampai selesai.Sebenarnya Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah????? dan kita sebagai warga masyarakat, membiarkan semua ini terus terjadi sehingga generasi muda yang akan datang menjadi beban yang berat bagi pembangunan.

Semoga saja anak jalanan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan. di dunia ini semuanya pasti bisa terjadi….

Senin, 27 Februari 2012

Rintihan Anak Jalanan


Berdiri kami diantara kaki lelah,

melangkah diantara kehidupan riuh

mencari sesuap nasi

isi perut agar terisi

sana kemari mencari-cari

tiada lelah tiada letih

berbelas hati dari jiwa suci

berharap dapat rupiah ditangan kami



kami bernyanyi

kami menari

berlari kami mencari

tiada iba dari jiwa-jiwa merasa suci

tiada belas kasih dihati

tiada perduli kehidupan kami

jadikan kami pengemis sesuap nasi



kami raga bernyawa

dianggap bagai bangkai mati

tatapan sinis

sumpah serapah

caci maki

sarapan kami sebelum rupiah

mengisi kantong kami



bagai terampas jiwa kami

dimana hak-hak kami

tiada perduli kehidupan kami

tiada perduli mimpi-mimpi kami

hanya datang saat butuh kami

lempar rupiah pada wajah dekil kami

inilah kemarahan kami saat perut tiada terisi

hanya menjilat sisa rupiah kau lemparkan ke kami

~

hamburkan,poyakan rupiah mu

tanpa pernah pikirkan nasib kami anak jalan

terlunta diantara siang,malam

mengemis merintih perih

sesunguhnya kau sama dengan kami

raga pemilik nyawa yang memakan

tulang belulang kami

hanya rupiah yang membedakan

kau jutawan kami anak jalanan



kami memandang gedung menjulang tinggi

hanya bisa tatap perih

kelu lidah menelan ludah

kami anak jalanan hanya punya mimpi setinggi langit



sesunguhnya kamilah jiwa tangguh

hujan, panas telah menyatu bersama jiwa kami

tiada kasur empuk, selimut hangat yang kami punya

hanya beralaskan rupiah kesombongan mu



takkan kami lelah,

takkan kami letih

tiada henti kami mencari

gapai mimpi bersama harapan

diatas tangan-tangan ketidak perdulian

kepada kami anak duka jalanan

Minggu, 26 Februari 2012

Anak Jalanan


Ya Allah, selain kata yatim, tak kutemukan kata anak-anak terlantar dalam al-Qur’an. Tidak pula pernah kudengar kata itu dari para ustad di dalam ceramah-ceramah mereka.

Ya Allah, kusaksikan begitu banyak orang berbuat baik dan derma kepada anak yatim karena janji surga dan imbalan pahala yang begitu banyak, sebagaimana telah Engkau janjikan. Tapi aku bukan anak yatim, ya Allah, karena ayah dan ibuku masih hidup. Mereka berdua ada, walaupun kini tak bersamaku.


Ya Allah, anak-anak yang menjadi yatim kadang mendapatkan warisan dan perhatian, dari paman, bibi, dan sanak keluarganya. Sungguh jauh berbeda kondisi mereka denganku, karena aku memang bukan anak yatim melainkan telah diyatimkan oleh keluargaku, oleh ayah dan ibuku sendiri.

Ya Allah, dalam keterlantaran ini, aku merasa diriku sebagai makhluk yang tak berharga. Mungkin kelahiranku dianggap sebagai beban bagi manusia, padahal Engkau tahu, kelahiranku adalah semata kehendak-Mu, bukan kehendakku. Mengapa Engkau tidak menyebutkan anak terlantar dalam wahyu-Mu, sebagaimana kau sebutkan anak yatim di dalamnya?

Tiap malam datang, kurebahkan diri dan kurelakan kepala kecilku berbantalkan batu. Kudambakan mimpi indah dalam lelap tidurku yang berselimut angin, beralas trotoar, dan beratapkan langit. Dengan jiwa lelah, sungguh taburan gemintang-Mu yang indah menjadi tampak kelam di mataku. Dan mimpi-mimpi indah yang kudambakan, seakan enggan menjadi penghias dan bunga tidurku.

Bila pagi menjelang, terasa perutku mulai mengawali nyanyian rutinnya. Dengan langkah lemas dan gontai, aku terpaksa menjadi pengemis. Namun bila rasa ngilu perutku mulai menyiksa, sementara tak seorangpun peduli dan menitipkan secuil belas kasihnya kepadaku, saat itulah aku menjadi pemulung, pengamen, bahkan tanpa berpikir panjang, aku pun nekad menjadi pencopet.

Ya Allah, sebenarnya aku malu menceritakan semua derita yang kualami. Betapa lemahnya aku menolak perlakuan tak adil manusia-manusia bejat, hingga penindasan yang dilakukan para preman yang menjadikanku sapi perah penghasil rupiah buat mereka.

Ya Allah, kubayangkan betapa cerianya wajah-wajah anak seusiaku yang setiap pagi berangkat ke sekolah, ditemani ayah atau ibu mereka. Sementara aku mesti sibuk berkutat dengan urusan haus mulut dan lapar perutku. Saat itulah kadang kusadari, betapa nasib kami memang berbeda.

Bagaimana aku yang tak punya penjamin dan pelindung akan dipercaya sekolah manapun? Apa yang mesti kukatakan andai mereka bertanya siapa ayah-ibuku, dan dimanakah tempat tinggal atau rumahku? Bahkan bila keajaiban dapat terjadi, dengan tangan dan hati terbuka pihak sekolah mau menerimaku, bukankah untuk belajar dengan baik, aku memerlukan suasana hati yang tenang? Padahal ketenangan dan kedamaian itu, telah sekian lamanya terenggut paksa dari kehidupan masa kecilku.

Ya Allah, aku tak ubahnya bingkai potret yang terbuang karena telah pecah berkeping-keping. Tak mungkin kurasakan peluang untuk menjalani hari-hariku di panti asuhan, karena aku bukan anak yatim. Seringkali hatiku bertanya, apakah anak jalanan dan anak terlantar bukan bagian dari kehidupan manusia, sedang pada saat yang sama para anak yatim mendapatkan perhatian mereka? Apakah Kau sengaja memilihku untuk menjadi anak-anak terlantar, sementara anak-anak lain hidup ceria? Mengapa harus ada anak terlantar bila Kau ciptakan manusia untuk tujuan-tujuan mulia?

Ya Allah, saat aku sakit, apa yang mesti kuperbuat? Mana mungkin aku kan mengenal obat dan jarum suntik? Bukankah aku terlalu kotor untuk berada di dekat dokter dan perawat berbaju putih-bersih dan rapi itu? Apalagi bila kupaksakan diri datang ke hadapan mereka, mengeluhkan rasa sakit tanpa sepeserpun rupiah di genggamanku, bagaimana mungkin mereka akan menolehku?

Ya Allah, aku tak pernah beribadah karena selama ini memang tak ada yang mengajariku untuk itu. Bahkan seringkali aku ragu, apakah Engkau ada atau tiada, hingga aku perlu menyembah-Mu? Terkadang kuanggap kehidupanku ini tak berarti dan sia-sia. Aku hanya tinggal menunggu waktu seperti binatang yang tak tahu kapan nyawanya akan diambil. Tak ubahnya sapi dan kambing, yang tak tahu-menahu apa sebenarnya arti hari qurban bagi manusia, yang hendak memancing keridhaan dari-Mu.

Aku benci sejumlah kata, ya Allah. Dan setiap kata itu masuk ke dalam telinga dan menjalari jiwaku, tak ayal kemarahanku seketika meletup. Kata ‘ayah,’ ‘ibu,’ ‘saudara,’ dan ‘keluarga,’ bagiku adalah palsu. Semua itu tak lebih adalah kata-kata yang tak bermakna, karena aku benar-benar tidak tahu apakah aku ini hasil dari sebuah perkawinan yang sah ataukah aku seorang anak yang lahir dari hubungan main-main dua orang manusia.

Ya Allah, andai Engkau benar-benar ada, andaikan Engkau memang Tuhan yang Maha Pemurah, Maha Iba, dan Maha Kasih, selain ayah dan ibu kandung yang telah pergi jauh dariku, maka hadirkanlah bagiku seorang ‘ayah’ dan seorang ‘ibu’ yang lain. Hadirkan mereka berdua untuk sekedar mengelus lembut kepalaku saat aku diterpa gelisah, mendekap tubuhku saat aku diserang rasa takut, mengingatkan dan menunjukkan arah yang benar ketika aku menyimpang dan nakal. Yang dengan tulus menyanjungku ketika aku berperilaku baik, yang membawaku ke dokter bila aku sakit, dan menguburkan jasadku andai saja nyawaku tak tertolong lagi. Kuinginkan semua itu, semata agar aku memiliki alasan berharga untuk melanjutkan hidup sebagai hamba-Mu.

Ya Allah, maafkan aku telah berdoa dengan cara anak jalanan, dengan bahasa yang tidak santun di atas trotoar di samping sampah berserak. Beri aku jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut dalam benakku. Selamatkan aku, raih tanganku. Karena seperti yang lain, aku juga ingin punya masa depan, dan menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain di dunia ini.





Jumat, 24 Februari 2012

Senyuman Mereka


Tak semua anak beruntung
Padahal tawa mereka masa depan kita.
Tapi, apa mereka masih tertawa esok?
Kitalah yang dapat menjawabnya...


LET'S OPEN OUR EYES




Share

Anak Jalanan



Ketika ...
Langkah kakiku
Berjalan di tengah keramaian
Hidupku serasa lebih berarti

Memohon apa yang mereka inginkan
Ku tinggalkan seperangkat ilmu
Ku acuhkan juga angan dan citaku
Hanya demi dia yang ku sayangi

Didampingi sang Awan yang tak menentu
Ditengah sang Surya yang menyengat
Di kala angin mendesah
Dan diiringi bisikan pasir dan debu

Ku kan selalu
melangkahkan kaki kecilku
Demi , jiwa-jiwa yang ku sayangi
Walau, jiwa ini sudah letih




Share