Selasa, 06 Maret 2012

Apa Kata Dunia...??


Pemberitaan tentang anggota dewan yang terhormat memang tidak ada habisnya. Gaung beritanya seakan bersaing dengan para selebritis yang senantiasa menebar sensasi demi mengatrol popularitas.
BERITANYA pun variatif mulai dari yang klasik. Seperti, membolos, tidur saat sidang, korupsi anggaran, hobi pelesiran atas nama tugas, rencana pembangunan sarana dan prasarana, serta fasilitas gedung. Seakan tak mau kalah dengan koleganya di dunia selebritis, alhasil beragam ketidakpuasan masih mewarnai opini publik soal kinerja wakil rakyat selama ini.

Tak heran jika saat ini anggota dewan menjadi bulan-bulanan media massa. Pergunjingan seputar polah tingkah mereka merebak di berbagai media cetak maupun elektronik hingga dunia maya. Tak cukup dengan itu. Berbagai elemen masyarakat, terutama mahasiswa, pun turun ke jalan mengecam berbagai ulah dan gaya hidup mereka.

Bahkan, sebuah parodi yang tayang rutin di sebuah stasiun televisi swasta menjadi ajang menguak dosa-dosa wakil rakyat.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan salah satu media di sepuluh kota besar Indonesia melalui telepon merupakan rangkaian pengumpulan pendapat masyarakat. Di mana, khusus menilai sepak terjang anggota wakil rakyat selama ini.

Penilaian masyarakat yang mencerminkan masih tetap terpuruknya citra para wakil rakyat tersebut sedikitnya diungkapkan tiga perempat bagian responden (76 persen). Hanya 17 persen responden yang menyatakan citra anggota wakil rakyat saat ini baik. Dan, sisanya memilih untuk tidak memberikan penilaian.

Terpuruk citra dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap wakil rakyat adalah bukti kegagalan wakil rakyat. Warisan masalah semacam itu, disengaja atau tidak, akan menyeret wakil rakyat pada saat ini dalam situasi sulit untuk memulai masa tugasnya.

Mereka harus bekerja dalam bayangan citra dewan yang rusak, tanpa kepercayaan publik, disertai keraguan atas kemampuan, komitmen, integritas, serta kemandirian politik membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Jika ada kesungguhan mengatasinya, wakil rakyat baru harus mampu membuktikan bahwa citra dewan terhormat dan publik dapat menaruh kepercayaannya karena dewan bekerja untuk kepentingan mereka.

Ini membutuhkan komitmen perubahan serta pilihan pendekatan yang strategis, efisien, dan efektif. Membuktikan komitmen perubahan dapat dimulai dengan hal sederhana. Seperti, rajin dan tepat waktu menghadiri sidang, menghindari kegiatan percaloan politik, serta menjauhkan pikiran dari penyalahgunaan wewenang.

Lebih dari itu, pada dasarnya anggota dewan tidak pernah punya hambatan untuk melakukan inisiasi perubahan berbagai mekanisme kerja wakil rakyat yang birokratis dan pengambilan kebijakan yang tidak efisien.

Wakil rakyat juga perlu serius membangun pola relasi intim dengan konstituen. Intimasi relasi wakil dan konstituen adalah kunci guna membongkar kebekuan hubungan dan menghapus keraguan/kecurigaan di antara keduanya. Inisiatif intimasi semacam ini akan memaknai demokrasi perwakilan sebagai demokrasi komunikatif. Di mana, dialog antara rakyat dan wakilnya dapat berlangsung intensif.

Para wakil rakyat sering mengandalkan media dalam menyampaikan informasi atas kinerjanya. Padahal, media sering kurang utuh dalam penyampaian informasi itu kepada konstituen karena terbatasnya ruang dan jangkauan. Adalah tugas dan kewajiban anggota wakil rakyat untuk langsung menampilkan rencana dan hasil kerjanya kepada konstituen..

Itulah pentingnya intimasi yang selama ini diabaikan, dan berakibat fatal karena mayoritas konstituen tidak tahu apa yang telah dan akan dikerjakan anggota wakil rakyat. Sementara itu, informasi tentang citra buruk wakil rakyat terus menerpa mereka. Hasilnya, anggota wakil rakyat diakui sebagai wakil rakyat. Tetapi rakyat membenci, mengkritik, bahkan mencacinya.

Berkaca pada pengalaman wakil rakyat sebelumnya agar tidak mengulang kesalahan dan mampu memperbaiki kinerja. Sistem suara terbanyak pada Pemilu 2009 kiranya memberi pelajaran penting bagi setiap anggota wakil rakyat baru bahwa pemilu bukan sekadar mencoba keberuntungan. Dengan sistem itu, anggota wakil rakyat tetap dituntut berjuang keras dan mengabdi kepada konstituen.

Berpolitik berarti bersedia mendedikasikan diri, waktu, pikiran, serta tenaga bagi rakyat dan partai politik. Bukan sekadar numpang lewat dan mencari keberuntungan melalui kekuasaan publik. Menjadi wakil rakyat berarti bersedia dan rela berkorban demi rakyat dan bangsa, bukan mencari dan memanfaatkan kekuasaan demi kekayaan, mengembangkan relasi bisnis, atau menjadi alat penguasa dan pemilik modal. Karena itu, wakil rakyat disebut sebagai anggota dewan yang terhormat.

Dari masyarakat yang serbamiskin akhlak ini terlahir generasi yang korup, hedonis, dan egoistis. Dan, dari generasi macam itulah terpilih para wakil rakyat yang perangainya merupakan cermin sesungguhnya bagi karakter masyarakat.

Terlepas dari itu, tak bijak rasanya kita terus-menerus menimpakan hujatan kepada anggota dewan dengan predikat manusia tak punya hati nurani, tak peka dengan penderitaan rakyat. Padahal dalam keseharian, sering kali kita berlaku sama. Hitunglah berapa kali kita acuh tak acuh kepada pengemis yang menengadahkan tangan di depan kita demi sesuap nasi.

Berapa kali kita memandang sebelah mata anak-anak kecil dengan pakaian lusuh yang memungut sampah di pekarangan rumah. Bahkan, terkadang kita masih memberi bonus berupa cercaan, makian, dan ejekan kepada mereka.

Sekali lagi, tak perlu menghujat anggota dewan dengan segala polah tingkahnya. Sebab, mereka adalah cermin-cermin diri kita. Jangan bertindak seperti peribahasa Buruk Muka Cermin Dibelah. Maka, kita sebagai masyarakat harus tetap berpegang teguh terhadap etika baik dan berpikiran positif terhadap semua pejabat kita. Allah Yang Maha Tahu. Dan, kita hanya sedikit tahu. Itu pun pengetahuan kita secara tidak langsung hanya lewat media cetak maupun elektronik dan internet.

Solusinya agar tidak menambah dosa-dosa prasangka kita, sebaiknya berpikir positif terhadap mereka. Selain itu, mendoakan supaya bangsa Indonesia lebih maju, tertata makmur, dan sejahtera lewat kerja mereka, tentunya kita secara pribadi. Wallahualam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar