Senin, 12 Maret 2012

Catatan dari Jendela Kamar Seorang Anak Jalanan


Dari jendela kamar, senantiasa aku memandang iri
pada langkah kaki-kaki kalian yang ringan,
pada senyum bibir-bibir kalian yang mengembang,
pada gerai rambut-rambut kalian yang melenggang.

Dari jendela kamar, seringkali aku mengeluh iri
mengapa langkah kaki-kakiku tiada ringan?
mengapa senyum bibir-bibirku tiada mengembang?
mengapa gerai rambut-rambutku enggan melenggang?

Dari jendela kamar, pergi sadarku
mengukur mulusnya mobil mewahmu, juga mahalnya sepatumu.
Mangkat juga sadarku ketika hanya sepiring kaleng nasi aking tertawa dingin memberi maaf pada laparku.

Kulepas sadarku tanpa duka dari jendela kamar.

Bersama dengan doa sederhana, hari ini aku bisa dapat uang
untuk menyambung nafas guna esok lusa buram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar