Senin, 27 Februari 2012

Rintihan Anak Jalanan


Berdiri kami diantara kaki lelah,

melangkah diantara kehidupan riuh

mencari sesuap nasi

isi perut agar terisi

sana kemari mencari-cari

tiada lelah tiada letih

berbelas hati dari jiwa suci

berharap dapat rupiah ditangan kami



kami bernyanyi

kami menari

berlari kami mencari

tiada iba dari jiwa-jiwa merasa suci

tiada belas kasih dihati

tiada perduli kehidupan kami

jadikan kami pengemis sesuap nasi



kami raga bernyawa

dianggap bagai bangkai mati

tatapan sinis

sumpah serapah

caci maki

sarapan kami sebelum rupiah

mengisi kantong kami



bagai terampas jiwa kami

dimana hak-hak kami

tiada perduli kehidupan kami

tiada perduli mimpi-mimpi kami

hanya datang saat butuh kami

lempar rupiah pada wajah dekil kami

inilah kemarahan kami saat perut tiada terisi

hanya menjilat sisa rupiah kau lemparkan ke kami

~

hamburkan,poyakan rupiah mu

tanpa pernah pikirkan nasib kami anak jalan

terlunta diantara siang,malam

mengemis merintih perih

sesunguhnya kau sama dengan kami

raga pemilik nyawa yang memakan

tulang belulang kami

hanya rupiah yang membedakan

kau jutawan kami anak jalanan



kami memandang gedung menjulang tinggi

hanya bisa tatap perih

kelu lidah menelan ludah

kami anak jalanan hanya punya mimpi setinggi langit



sesunguhnya kamilah jiwa tangguh

hujan, panas telah menyatu bersama jiwa kami

tiada kasur empuk, selimut hangat yang kami punya

hanya beralaskan rupiah kesombongan mu



takkan kami lelah,

takkan kami letih

tiada henti kami mencari

gapai mimpi bersama harapan

diatas tangan-tangan ketidak perdulian

kepada kami anak duka jalanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar