Rabu, 29 Februari 2012

Mimpi Anak Jalanan


Anak jalanan, pada hakikatnya, adalah “anak-anak”, sama dengan anak-anak lainnya yang bukan anak jalanan. Mereka membutuhkan pendidikan. Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa.Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta menjadi kering tak menarik.Sering kita melihat anak jalanan Wajahnya kusam, rambutnya acak-acakan. Bajunya lusuh ditimpali debu jalanan dan asap knalpot kendaraan. Dengan suara asli nya bernyanyi tanpa menoleh ke pengendara mobil. Karena diburu waktu, tak satu pun tembang yang berhasil dinyanyikan sampai selesai.Sebenarnya Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah????? dan kita sebagai warga masyarakat, membiarkan semua ini terus terjadi sehingga generasi muda yang akan datang menjadi beban yang berat bagi pembangunan.

Semoga saja anak jalanan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan. di dunia ini semuanya pasti bisa terjadi….

Senin, 27 Februari 2012

Rintihan Anak Jalanan


Berdiri kami diantara kaki lelah,

melangkah diantara kehidupan riuh

mencari sesuap nasi

isi perut agar terisi

sana kemari mencari-cari

tiada lelah tiada letih

berbelas hati dari jiwa suci

berharap dapat rupiah ditangan kami



kami bernyanyi

kami menari

berlari kami mencari

tiada iba dari jiwa-jiwa merasa suci

tiada belas kasih dihati

tiada perduli kehidupan kami

jadikan kami pengemis sesuap nasi



kami raga bernyawa

dianggap bagai bangkai mati

tatapan sinis

sumpah serapah

caci maki

sarapan kami sebelum rupiah

mengisi kantong kami



bagai terampas jiwa kami

dimana hak-hak kami

tiada perduli kehidupan kami

tiada perduli mimpi-mimpi kami

hanya datang saat butuh kami

lempar rupiah pada wajah dekil kami

inilah kemarahan kami saat perut tiada terisi

hanya menjilat sisa rupiah kau lemparkan ke kami

~

hamburkan,poyakan rupiah mu

tanpa pernah pikirkan nasib kami anak jalan

terlunta diantara siang,malam

mengemis merintih perih

sesunguhnya kau sama dengan kami

raga pemilik nyawa yang memakan

tulang belulang kami

hanya rupiah yang membedakan

kau jutawan kami anak jalanan



kami memandang gedung menjulang tinggi

hanya bisa tatap perih

kelu lidah menelan ludah

kami anak jalanan hanya punya mimpi setinggi langit



sesunguhnya kamilah jiwa tangguh

hujan, panas telah menyatu bersama jiwa kami

tiada kasur empuk, selimut hangat yang kami punya

hanya beralaskan rupiah kesombongan mu



takkan kami lelah,

takkan kami letih

tiada henti kami mencari

gapai mimpi bersama harapan

diatas tangan-tangan ketidak perdulian

kepada kami anak duka jalanan

Minggu, 26 Februari 2012

Anak Jalanan


Ya Allah, selain kata yatim, tak kutemukan kata anak-anak terlantar dalam al-Qur’an. Tidak pula pernah kudengar kata itu dari para ustad di dalam ceramah-ceramah mereka.

Ya Allah, kusaksikan begitu banyak orang berbuat baik dan derma kepada anak yatim karena janji surga dan imbalan pahala yang begitu banyak, sebagaimana telah Engkau janjikan. Tapi aku bukan anak yatim, ya Allah, karena ayah dan ibuku masih hidup. Mereka berdua ada, walaupun kini tak bersamaku.


Ya Allah, anak-anak yang menjadi yatim kadang mendapatkan warisan dan perhatian, dari paman, bibi, dan sanak keluarganya. Sungguh jauh berbeda kondisi mereka denganku, karena aku memang bukan anak yatim melainkan telah diyatimkan oleh keluargaku, oleh ayah dan ibuku sendiri.

Ya Allah, dalam keterlantaran ini, aku merasa diriku sebagai makhluk yang tak berharga. Mungkin kelahiranku dianggap sebagai beban bagi manusia, padahal Engkau tahu, kelahiranku adalah semata kehendak-Mu, bukan kehendakku. Mengapa Engkau tidak menyebutkan anak terlantar dalam wahyu-Mu, sebagaimana kau sebutkan anak yatim di dalamnya?

Tiap malam datang, kurebahkan diri dan kurelakan kepala kecilku berbantalkan batu. Kudambakan mimpi indah dalam lelap tidurku yang berselimut angin, beralas trotoar, dan beratapkan langit. Dengan jiwa lelah, sungguh taburan gemintang-Mu yang indah menjadi tampak kelam di mataku. Dan mimpi-mimpi indah yang kudambakan, seakan enggan menjadi penghias dan bunga tidurku.

Bila pagi menjelang, terasa perutku mulai mengawali nyanyian rutinnya. Dengan langkah lemas dan gontai, aku terpaksa menjadi pengemis. Namun bila rasa ngilu perutku mulai menyiksa, sementara tak seorangpun peduli dan menitipkan secuil belas kasihnya kepadaku, saat itulah aku menjadi pemulung, pengamen, bahkan tanpa berpikir panjang, aku pun nekad menjadi pencopet.

Ya Allah, sebenarnya aku malu menceritakan semua derita yang kualami. Betapa lemahnya aku menolak perlakuan tak adil manusia-manusia bejat, hingga penindasan yang dilakukan para preman yang menjadikanku sapi perah penghasil rupiah buat mereka.

Ya Allah, kubayangkan betapa cerianya wajah-wajah anak seusiaku yang setiap pagi berangkat ke sekolah, ditemani ayah atau ibu mereka. Sementara aku mesti sibuk berkutat dengan urusan haus mulut dan lapar perutku. Saat itulah kadang kusadari, betapa nasib kami memang berbeda.

Bagaimana aku yang tak punya penjamin dan pelindung akan dipercaya sekolah manapun? Apa yang mesti kukatakan andai mereka bertanya siapa ayah-ibuku, dan dimanakah tempat tinggal atau rumahku? Bahkan bila keajaiban dapat terjadi, dengan tangan dan hati terbuka pihak sekolah mau menerimaku, bukankah untuk belajar dengan baik, aku memerlukan suasana hati yang tenang? Padahal ketenangan dan kedamaian itu, telah sekian lamanya terenggut paksa dari kehidupan masa kecilku.

Ya Allah, aku tak ubahnya bingkai potret yang terbuang karena telah pecah berkeping-keping. Tak mungkin kurasakan peluang untuk menjalani hari-hariku di panti asuhan, karena aku bukan anak yatim. Seringkali hatiku bertanya, apakah anak jalanan dan anak terlantar bukan bagian dari kehidupan manusia, sedang pada saat yang sama para anak yatim mendapatkan perhatian mereka? Apakah Kau sengaja memilihku untuk menjadi anak-anak terlantar, sementara anak-anak lain hidup ceria? Mengapa harus ada anak terlantar bila Kau ciptakan manusia untuk tujuan-tujuan mulia?

Ya Allah, saat aku sakit, apa yang mesti kuperbuat? Mana mungkin aku kan mengenal obat dan jarum suntik? Bukankah aku terlalu kotor untuk berada di dekat dokter dan perawat berbaju putih-bersih dan rapi itu? Apalagi bila kupaksakan diri datang ke hadapan mereka, mengeluhkan rasa sakit tanpa sepeserpun rupiah di genggamanku, bagaimana mungkin mereka akan menolehku?

Ya Allah, aku tak pernah beribadah karena selama ini memang tak ada yang mengajariku untuk itu. Bahkan seringkali aku ragu, apakah Engkau ada atau tiada, hingga aku perlu menyembah-Mu? Terkadang kuanggap kehidupanku ini tak berarti dan sia-sia. Aku hanya tinggal menunggu waktu seperti binatang yang tak tahu kapan nyawanya akan diambil. Tak ubahnya sapi dan kambing, yang tak tahu-menahu apa sebenarnya arti hari qurban bagi manusia, yang hendak memancing keridhaan dari-Mu.

Aku benci sejumlah kata, ya Allah. Dan setiap kata itu masuk ke dalam telinga dan menjalari jiwaku, tak ayal kemarahanku seketika meletup. Kata ‘ayah,’ ‘ibu,’ ‘saudara,’ dan ‘keluarga,’ bagiku adalah palsu. Semua itu tak lebih adalah kata-kata yang tak bermakna, karena aku benar-benar tidak tahu apakah aku ini hasil dari sebuah perkawinan yang sah ataukah aku seorang anak yang lahir dari hubungan main-main dua orang manusia.

Ya Allah, andai Engkau benar-benar ada, andaikan Engkau memang Tuhan yang Maha Pemurah, Maha Iba, dan Maha Kasih, selain ayah dan ibu kandung yang telah pergi jauh dariku, maka hadirkanlah bagiku seorang ‘ayah’ dan seorang ‘ibu’ yang lain. Hadirkan mereka berdua untuk sekedar mengelus lembut kepalaku saat aku diterpa gelisah, mendekap tubuhku saat aku diserang rasa takut, mengingatkan dan menunjukkan arah yang benar ketika aku menyimpang dan nakal. Yang dengan tulus menyanjungku ketika aku berperilaku baik, yang membawaku ke dokter bila aku sakit, dan menguburkan jasadku andai saja nyawaku tak tertolong lagi. Kuinginkan semua itu, semata agar aku memiliki alasan berharga untuk melanjutkan hidup sebagai hamba-Mu.

Ya Allah, maafkan aku telah berdoa dengan cara anak jalanan, dengan bahasa yang tidak santun di atas trotoar di samping sampah berserak. Beri aku jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang bergelayut dalam benakku. Selamatkan aku, raih tanganku. Karena seperti yang lain, aku juga ingin punya masa depan, dan menjadi manusia yang berguna bagi manusia lain di dunia ini.





Jumat, 24 Februari 2012

Senyuman Mereka


Tak semua anak beruntung
Padahal tawa mereka masa depan kita.
Tapi, apa mereka masih tertawa esok?
Kitalah yang dapat menjawabnya...


LET'S OPEN OUR EYES




Share

Anak Jalanan



Ketika ...
Langkah kakiku
Berjalan di tengah keramaian
Hidupku serasa lebih berarti

Memohon apa yang mereka inginkan
Ku tinggalkan seperangkat ilmu
Ku acuhkan juga angan dan citaku
Hanya demi dia yang ku sayangi

Didampingi sang Awan yang tak menentu
Ditengah sang Surya yang menyengat
Di kala angin mendesah
Dan diiringi bisikan pasir dan debu

Ku kan selalu
melangkahkan kaki kecilku
Demi , jiwa-jiwa yang ku sayangi
Walau, jiwa ini sudah letih




Share

JERITAN RAKYAT KECIL


sungguh tak ber otak pada mereka pengusa negara..
janji palsu dengan senyum palsu
hingga tak terdengar suara - suara rakyat kecil ?
menjajaki hidup dengan kepalsuan pengusa


hei penguasa ! tak kah kalian dengar !
tak kah kalian rasakan
ritihan kami , kemisknan kami,
kekurangan kami!!!!!!!


sekejam itukah otak kalian !
berleha - leha di atas penderitaan kami
sesungguhnya pendidikanmu lebih rendah
dari pada rakyat jelata yang tak tau huruf
hei penguasa!!!!!!!!
dengar jeritan kami



Share

JERITAN RAKYAT KECIL



sungguh tak ber otak pada mereka pengusa negara..
janji palsu dengan senyum palsu
hingga tak terdengar suara - suara rakyat kecil ?
menjajaki hidup dengan kepalsuan pengusa


hei penguasa ! tak kah kalian dengar !
tak kah kalian rasakan
ritihan kami , kemisknan kami,
kekurangan kami!!!!!!!


sekejam itukah otak kalian !
berleha - leha di atas penderitaan kami
sesungguhnya pendidikanmu lebih rendah
dari pada rakyat jelata yang tak tau huruf
hei penguasa!!!!!!!!
dengar jeritan kam
i




Share

Jeritan Rakyat Jelata



Kalimat tersebut tampaknya masih relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini walau tak semua pemilik "kursi" seperti itu. Pada awalnya mereka berusaha "menjilat" semua lapisan masyarakat agar dapat menjadi orang terpilih. Segala cara mereka lakukan dengan sangat halus dan tampak tanpa rekayasa, tetapi setelah terpilih apakah semua janji manis itu terealisasi?? Saya pikir para pembaca thread ini b
isa menjawabnya sendiri.

Sekarang pemerintah berusaha mensejahterakan petinggi negeri ini yang katanya agar tidak terjadi penyimpangan seperti korupsi serta meningkatkan kinerja dengan memberikan berbagai fasilitas dan tunjangan, namun apa yang terjadi?? Masih saja media mendapatkan penyimpangan yang terjadi seperti "mangkir" dari tugas.

Berdasarkan data tahun 2010 penduduk Indonesia yang berada pada garis kemiskinan sekitar 32.7 juta jiwa, tetapi saya tidak terlalu yakin bisa saja malah berada dibawah garis kemiskinan. Miskin saja sudah sulit apalagi dibawah garis kemiskinan? Marilah kita berpikir sejenak apakah semua yang terjadi di negeri ini sudah pada tempatnya? Atau malah banya yang salah sasaran?

Dengan banyaknya penduduk Indonesia yang kurang mampu maka secara tidak langsung akan menambah angka kriminalitas, prostitusi, human trafficking, dan lain-lain. Karena yang ada dipikiran mereka hanya "Bagaimana bisa makan hari ini agar tetap hidup?" sehingga mereka akan menghalalkan berbagai cara. Selain itu berdasarkan statistik setiap tahun angka
kemiskinan selalu bertambah lalu bagaimana peran pemerintah dalam hal ini?




Share

Kamis, 23 Februari 2012

Anak Telantar



Anak yang terbuang
Impiannya hilang
Yang ada hanya angan-angan

Akankah ada yang peduli
Akankah ada yang mendengar
Tangisan dan jeritannya
Kesedihannya?

Tuan kasihinilah mereka
Sayangilah mereka
Karena tuan adalah malaikat
Malaikat yang di kirim oleh tuhan
Untuk menyayangi dan mengasihi
mereka.


Share

Maaf Ibu


Dentang nafasmu menyeruak hari hingga senja
Tak ada lelah menggores diwajah ayumu
Tak ada sesal kala semua harus kau lalui
Langkah itu terus berjalan untuk kami
Dua bidadari kecilmu…

Desah mimpimu berlari
mengejar bintang
Berharap kami menjadi mutiara terindahmu
Dalam semua peran yang kau mainkan di bumi
Ini peran terbaikmu

Dalam lelah kau rangkai kata bijak untuk kami
Mengurai senyum disetiap perjalanan kami
Mendera doa disetiap detik nafas kami
Ibu… kau berlian dihati kami

Relung hatimu begitu indah
Hingga kami tak sanggup menggapai dalamnya
Derai air matamu menguntai sebuah harap
Di setiap sholat malammu

Ibu…
Kami hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu
Membopong semua mimpimu dalam pundak kami

Ibu…
Jangan benci kami
jika kami membuatmu menangis.


Share